Tentang KamiKontakKebijakan PrivasiDisclaimerDaftar Isi

Teladan Sahabat Kaya yang Dermawan: Kisah Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan

· Oleh zulfhadli
Kafilah unta di padang pasir
Kafilah unta di padang pasir, gambaran perdagangan di masa sahabat. Foto: Sergey Pesterev, CC BY-SA 4.0 · Sumber: Wikimedia Commons

Ada anggapan yang cukup sering kita dengar: orang saleh itu identik dengan hidup miskin, sedangkan orang kaya pasti jauh dari agama. Sejarah sahabat Rasulullah SAW membantah anggapan ini. Di antara sahabat yang paling mulia, ada saudagar-saudagar kaya yang hartanya justru menjadi jalan menuju surga.

Di artikel penutup Seri Pintu Rezeki ini, kita belajar dari dua sahabat yang dijamin surga: Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Kisah mereka merangkum hampir semua pintu rezeki yang sudah kita bahas: kerja keras, kejujuran, sedekah, syukur, dan takwa.

Abdurrahman bin Auf: Memulai dari Nol

Abdurrahman bin Auf termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam lewat ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (HR. At-Tirmidzi). Sebelum hijrah, ia adalah pedagang yang sukses di Makkah. Namun ketika berhijrah ke Madinah, ia meninggalkan hampir seluruh hartanya demi agama.

"Tunjukkan Aku Jalan ke Pasar"

Di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi', seorang Anshar yang kaya. Dengan tulus Sa'ad menawarkan separuh hartanya, bahkan menawarkan salah satu istrinya untuk diceraikan agar bisa dinikahi Abdurrahman.

Abdurrahman menolak dengan halus. Ia berkata, "Semoga Allah memberkahimu pada keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar." (HR. Bukhari)

Ia pun berdagang di pasar Madinah, mulai dari modal yang sangat kecil. Tak lama kemudian ia sudah mampu menikah, dan perdagangannya terus berkembang hingga menjadi salah satu sahabat terkaya.

Kalimat "tunjukkan aku pasar" layak menjadi prinsip hidup. Abdurrahman lebih memilih bekerja daripada menerima pemberian, meskipun pemberian itu datang dengan tulus. Ini sejalan dengan pembahasan di artikel tentang bekerja dan rezeki halal dalam seri ini.

Kaya, tetapi Hatinya Tidak Terikat Harta

Kekayaan tidak membuat Abdurrahman lupa diri. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahwa suatu hari ia disuguhi makanan ketika sedang berpuasa. Ia lalu teringat Mush'ab bin Umair, sahabat yang gugur di Uhud dan hanya memiliki selembar kain untuk kafan, yang jika ditutupkan ke kepala maka kakinya terbuka. Abdurrahman berkata bahwa ia khawatir kebaikan-kebaikannya telah disegerakan di dunia, lalu ia menangis hingga tidak menyentuh makanannya.

Inilah tanda harta yang berada di tangan, bukan di hati: ia menikmatinya dengan wajar, tetapi selalu merasa takut harta itu melalaikannya.

Abdurrahman dikenal sangat dermawan dan banyak menginfakkan hartanya di jalan Allah. Ada pula kisah tentang rombongan dagangnya yang sangat besar yang seluruhnya disedekahkan, namun kisah tersebut diriwayatkan dengan sanad yang diperselisihkan para ulama. Kemuliaannya sudah cukup jelas dari riwayat-riwayat yang sahih. Bahkan dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah salat Subuh menjadi makmum di belakang Abdurrahman bin Auf ketika beliau datang terlambat dalam perjalanan menuju Tabuk.

Utsman bin Affan: Dermawan yang Pemalu

Utsman bin Affan juga seorang saudagar kaya. Kedermawanannya tercatat dalam banyak hadis, di antaranya:

  • Membeli sumur Rumah di Madinah lalu mewakafkannya untuk kaum muslimin, setelah Rasulullah SAW menjanjikan surga bagi yang membelinya.
  • Membiayai pasukan Tabuk di masa sulit, sampai Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia kerjakan setelah hari ini." (HR. At-Tirmidzi)
  • Ikut membiayai perluasan Masjid Nabawi.

Kisah lengkapnya bisa dibaca di biografi Utsman bin Affan.

Pelajaran tentang Harta dari Dua Sahabat

  1. Kaya tidak tercela, asal halal dan bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik harta adalah harta yang baik yang dimiliki oleh orang yang saleh." (HR. Ahmad)
  2. Bekerja lebih mulia daripada bergantung. Abdurrahman memilih pasar daripada pemberian.
  3. Jujur dalam berdagang adalah sumber keberkahan.
  4. Sedekah tidak membuat miskin. Keduanya terus memberi, dan Allah terus mencukupi mereka.
  5. Harta di tangan, bukan di hati. Mereka menikmati dunia tanpa diperbudak olehnya.
  6. Syukur dan takut kepada Allah tetap terjaga di puncak kekayaan.

Penutup Seri Pintu Rezeki

Sepuluh artikel dalam seri ini membawa kita dari keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar, lalu ke pintu-pintu yang Allah sediakan: sedekah, silaturahim, istighfar, syukur, takwa, tawakal, kerja yang halal, dan doa. Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan menunjukkan bahwa semua pintu itu bisa dijalani sekaligus oleh seorang mukmin, hingga hartanya menjadi bekal menuju surga.

Semoga kita diberi rezeki yang halal, luas, dan berkah, serta hati yang tetap terpaut kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit.

Rujukan: Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim; Sunan At-Tirmidzi; Musnad Ahmad; Ibnu Sa'd, ath-Thabaqat al-Kubra; adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala.

Komentar

↑