Silaturahim Melapangkan Rezeki dan Memanjangkan Umur: Penjelasan Hadisnya

Setiap Lebaran, jalanan macet oleh pemudik. Orang rela antre berjam-jam, berdesakan di kapal, atau menyetir semalaman hanya untuk bisa sungkem kepada orang tua dan bertemu saudara. Lelahnya terbayar begitu melihat wajah ibu di depan pintu. Tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan keluarga dalam budaya kita.
Islam ternyata memberi nilai yang sangat tinggi pada ikatan ini. Bahkan Rasulullah SAW mengaitkannya langsung dengan rezeki. Di artikel ketiga Seri Pintu Rezeki ini, kita membahas silaturahim: dalilnya, maknanya, dan cara menghidupkannya di zaman yang serba sibuk.
Hadis tentang Silaturahim dan Rezeki
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim." (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
Hadis ini sangat terkenal dan derajatnya sahih, diriwayatkan oleh dua imam hadis paling terpercaya. Isinya pun jelas: ada hubungan langsung antara menjaga ikatan keluarga dengan kelapangan rezeki dan panjangnya umur.
Apa Maksud "Dipanjangkan Umurnya"?
Bukankah ajal sudah ditetapkan? Pertanyaan ini sudah dibahas para ulama sejak dulu. Imam An-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim menyebutkan beberapa penjelasan:
- Umur yang berkah. Waktu hidupnya dipenuhi taufik untuk beramal saleh, sehingga hasil umurnya jauh lebih banyak daripada orang lain dengan umur yang sama.
- Nama baik yang panjang. Kebaikannya terus dikenang dan didoakan setelah ia wafat.
- Tambahan yang hakiki pada catatan yang ada di tangan malaikat, sementara ilmu Allah tidak berubah, karena Allah sudah mengetahui bahwa orang itu akan menyambung silaturahim.
Apa pun penjelasannya, pesannya sama: silaturahim membawa kebaikan yang nyata, baik dalam rezeki maupun dalam usia.
Kenapa Silaturahim Bisa Membuka Rezeki?
Selain karena janji Allah, ada hikmah yang bisa kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari:
- Doa yang mengalir. Orang tua, paman, bibi, dan saudara yang kita kunjungi akan mendoakan kebaikan untuk kita. Doa orang-orang yang tulus adalah kekuatan yang sering diremehkan.
- Jalan informasi dan kesempatan. Tidak sedikit pekerjaan, pelanggan, atau peluang usaha datang dari obrolan santai dengan kerabat.
- Saling menolong saat sulit. Keluarga yang rukun akan saling menopang ketika ada yang terkena musibah.
- Hati yang lapang. Hubungan yang baik membuat hidup lebih tenang, dan ketenangan itu sendiri adalah rezeki.
Ancaman bagi Pemutus Silaturahim
Sebaliknya, memutus silaturahim termasuk dosa besar. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali silaturahim)." (HR. Bukhari dan Muslim dari Jubair bin Muth'im)
Dalam hadis qudsi diriwayatkan bahwa Allah berfirman kepada rahim (ikatan kekerabatan): "Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu." (HR. Bukhari dan Muslim). Bayangkan, menyambung keluarga berarti disambung oleh Allah.
Penyambung Sejati
Ini mungkin bagian yang paling menantang. Rasulullah SAW bersabda:
"Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu orang yang membalas (kunjungan atau kebaikan). Akan tetapi, penyambung silaturahim adalah orang yang apabila hubungannya diputus, ia menyambungnya." (HR. Bukhari dari Abdullah bin Amr)
Menyambung hubungan dengan saudara yang baik kepada kita itu mudah. Ujian sebenarnya adalah tetap menyapa saudara yang pernah menyakiti, tetap berkunjung kepada kerabat yang jarang membalas, dan tetap mengalah demi keutuhan keluarga. Di situlah pahala besar menunggu.
Cara Menyambung Silaturahim di Zaman Sekarang
- Utamakan orang tua. Kunjungi, telepon, atau video call mereka secara rutin, bukan hanya saat Lebaran.
- Sapa grup keluarga dengan baik. Ucapkan selamat, tanyakan kabar, dan hindari perdebatan yang memecah belah.
- Datang saat suka dan duka. Hadiri pernikahan, jenguk yang sakit, dan takziah saat ada yang wafat.
- Bantu kerabat yang kesulitan. Sedekah kepada kerabat bernilai ganda: sedekah sekaligus silaturahim.
- Maafkan dan mulai lebih dulu. Jika ada yang renggang, jadilah orang pertama yang menyapa.
- Kirim hadiah kecil. Rasulullah SAW menganjurkan saling memberi hadiah agar saling mencintai.
Penutup
Silaturahim bukan sekadar tradisi mudik atau formalitas grup WhatsApp keluarga. Ia adalah ibadah yang Allah janjikan balasannya berupa rezeki yang lapang dan umur yang berkah. Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat untuk menelepon orang tua, atau mengirim pesan kepada saudara yang sudah lama tidak kita sapa.
Rujukan: Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim; An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
Komentar
Posting Komentar