Tentang KamiKontakKebijakan PrivasiDisclaimerDaftar Isi

Sedekah Membuka Pintu Rezeki: Dalil, Rahasia, dan Adabnya

· Oleh zulfhadli
Kotak amal di Masjid Jami Peneleh Surabaya
Kotak amal di Masjid Jami Peneleh, Surabaya. Foto: Reski halda, CC0 · Sumber: Wikimedia Commons

Ada satu hitungan yang tidak masuk akal kalau dilihat dengan kalkulator biasa: uang yang dikeluarkan untuk sedekah justru membuat harta tidak berkurang. Secara matematika, sepuluh dikurangi satu tentu tinggal sembilan. Tapi dalam hitungan Allah, rumusnya berbeda.

Di artikel kedua Seri Pintu Rezeki ini kita membahas sedekah, salah satu pintu rezeki yang paling sering disebut dalam Al-Qur'an dan hadis. Kita lihat dalilnya, bagaimana cara Allah "mengganti", dan adab yang membuat sedekah benar-benar bernilai.

"Sedekah Tidak Mengurangi Harta"

Rasulullah SAW bersabda:

"Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Para ulama menjelaskan makna "tidak mengurangi" dalam dua sisi. Pertama, Allah memberkahi sisa harta itu sehingga cukup, bahkan terasa lebih lapang, dan Allah menggantinya dengan cara yang Dia kehendaki. Kedua, pahala sedekah itu tersimpan dan berlipat di akhirat, sehingga secara hakikat harta itu tidak hilang, justru berpindah ke "rekening" yang abadi.

Allah yang Akan Mengganti

Dalam Surah Saba' ayat 39, Allah berfirman:

"...Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik."

Rasulullah SAW juga mengabarkan bahwa setiap pagi ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, "Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak," dan yang lain berdoa, "Ya Allah, berilah kebinasaan (harta) kepada orang yang menahan hartanya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Bayangkan, setiap pagi ada doa malaikat yang mengiringi orang-orang yang gemar memberi. Kalimat ini sederhana, tapi cukup untuk membuat kita berpikir dua kali sebelum menolak membantu orang yang membutuhkan.

Perumpamaan Satu Benih Menjadi Tujuh Ratus

Al-Qur'an memakai perumpamaan yang sangat dekat dengan kehidupan petani. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, Allah menggambarkan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dan pada setiap tangkai ada seratus biji. Satu menjadi tujuh ratus, dan Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.

Petani yang menebar benih tidak merasa kehilangan. Ia tahu benih itu sedang "bekerja" di dalam tanah. Begitulah seharusnya kita memandang sedekah.

Bagaimana Allah Mengganti?

Di sinilah kita perlu jujur dan tidak berlebihan. Janji Allah pasti benar, tetapi bentuk dan waktu penggantinya adalah hak Allah. Ganti itu tidak selalu berupa uang yang kembali dalam jumlah lebih besar keesokan harinya. Bisa jadi bentuknya:

  • keluarga yang dijaga dari penyakit sehingga tidak perlu biaya berobat,
  • usaha yang tiba-tiba ramai pembeli,
  • urusan yang dimudahkan dan utang yang terasa cepat lunas,
  • hati yang tenang dan merasa cukup, sebuah kekayaan yang tidak bisa dibeli,
  • atau pahala yang disimpan utuh untuk hari ketika kita paling membutuhkannya.

Karena itu, bersedekahlah karena Allah, bukan karena ingin "investasi kilat". Sedekah yang diniatkan semata-mata untuk mendapat balasan dunia berisiko mengecewakan hati sendiri ketika balasannya tidak datang dalam bentuk yang kita bayangkan.

Sedekah Tidak Harus Menunggu Kaya

Banyak orang menunda sedekah dengan alasan "nanti kalau sudah punya lebih". Padahal Rasulullah SAW bersabda, "Jagalah diri kalian dari neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) separuh butir kurma." (HR. Bukhari dan Muslim dari Adi bin Hatim)

Sedekah juga tidak selalu berbentuk uang. Rasulullah SAW bersabda bahwa senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah (HR. At-Tirmidzi). Dalam hadis lain disebutkan bahwa setiap ucapan tasbih, tahmid, dan tahlil adalah sedekah, demikian pula menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran (HR. Muslim). Membantu tetangga mengangkat barang, menyingkirkan duri dari jalan, sampai mengajarkan ilmu, semuanya terhitung sedekah.

Adab Bersedekah

  1. Ikhlas karena Allah. Inilah ruh sedekah. Tanpa ikhlas, sedekah kehilangan nilainya.
  2. Dari harta yang halal. Allah Mahabaik dan hanya menerima yang baik.
  3. Tidak menyebut-nyebut dan menyakiti. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 264 agar kita tidak menghapus pahala sedekah dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima.
  4. Utamakan yang dekat. Keluarga dan kerabat yang membutuhkan lebih berhak didahulukan; bersedekah kepada kerabat bernilai ganda, yaitu sedekah sekaligus menyambung silaturahim.
  5. Boleh terang-terangan, lebih utama sembunyi-sembunyi, kecuali jika ditampakkan untuk memberi contoh dan hati tetap terjaga dari riya.
  6. Rutin meski sedikit. Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim).

Cara Sederhana Memulai Kebiasaan Sedekah

  • Sisihkan sedekah di awal saat menerima gaji, bukan dari sisa di akhir bulan.
  • Siapkan "amplop sedekah" atau dompet khusus agar tidak lupa.
  • Manfaatkan kotak amal masjid setiap salat Jumat.
  • Bantu tetangga atau saudara yang sedang kesulitan secara diam-diam.
  • Untuk kewajiban zakat, hitung dengan tepat lewat kalkulator zakat penghasilan dan kalkulator zakat fitrah.

Penutup

Rasulullah SAW bersabda, "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim). Sedekah melatih kita menjadi tangan di atas, sekaligus membuka pintu rezeki yang tidak kita sangka. Mulailah dari yang kecil, lakukan dengan ikhlas, dan biarkan Allah yang menghitung balasannya.

Rujukan: Al-Qur'an (QS. Saba': 39, Al-Baqarah: 261 dan 264); Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim; Sunan At-Tirmidzi.

Komentar

↑