Tentang KamiKontakKebijakan PrivasiDisclaimerDaftar Isi

Rezeki Tidak Akan Tertukar: Memahami Konsep Rezeki dalam Islam

· Oleh zulfhadli
Hamparan sawah terasering hijau di Bali
Sawah terasering di Tirta Gangga, Bali. Foto: Vyacheslav Argenberg, CC BY 4.0 · Sumber: Wikimedia Commons

Pernah merasa iri melihat teman seangkatan yang kariernya melesat, sementara kita masih begitu-begitu saja? Atau gelisah memikirkan cicilan, biaya sekolah anak, dan harga kebutuhan yang terus naik? Perasaan seperti itu sangat manusiawi. Hampir semua orang pernah mengalaminya.

Di tengah kegelisahan semacam itu, kita sering mendengar nasihat sederhana dari orang tua: "Sudahlah, rezeki tidak akan tertukar." Kalimatnya pendek, tapi maknanya dalam sekali. Artikel pertama dari Seri Pintu Rezeki ini mengajak kita memahami ulang apa sebenarnya rezeki itu menurut Islam, supaya hati lebih tenang tanpa membuat kita berhenti berusaha.

Rezeki Itu Sudah Dijamin

Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 6:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Artinya: "Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya."

Coba perhatikan cakupannya: tidak ada satu pun makhluk. Semut yang berjalan di sela tembok, ikan di dasar laut yang belum pernah dilihat manusia, sampai bayi yang baru lahir pagi ini. Semuanya punya jatah yang sudah Allah siapkan.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa ketika janin berusia sekitar empat bulan dalam kandungan, malaikat diutus untuk meniupkan ruh dan menuliskan empat hal: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia celaka atau bahagia (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas'ud). Jadi, jauh sebelum kita bisa berjalan, bahkan sebelum kita lahir, rezeki kita sudah tercatat.

Tidak Akan Mati Sebelum Rezeki Lengkap

Ada satu hadis yang sering membuat hati terasa lapang. Rasulullah SAW bersabda, yang maknanya:

"Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Sesungguhnya seseorang tidak akan mati sampai rezekinya sempurna, meskipun datangnya lambat. Maka bertakwalah kepada Allah, carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram." (HR. Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)

Perhatikan kalimat meskipun datangnya lambat. Rezeki kadang memang tidak datang sesuai jadwal yang kita inginkan. Ada yang baru mapan di usia empat puluh, ada yang lewat jalan yang sama sekali tak terduga. Tapi hadis ini menenangkan: jatahmu tidak akan diambil orang lain, dan kamu tidak akan meninggalkan dunia sebelum jatah itu habis kamu terima.

Rezeki Bukan Cuma Uang

Ini bagian yang paling sering terlupa. Kita cenderung menyempitkan rezeki menjadi gaji, omzet, atau saldo rekening. Padahal para ulama menjelaskan bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah berikan kepada makhluk-Nya. Cobalah daftar pelan-pelan apa saja yang kita punya hari ini:

  • Badan yang sehat sehingga bisa bangun pagi tanpa rasa sakit.
  • Keluarga yang menunggu di rumah, sesederhana apa pun keadaannya.
  • Ilmu yang membuat kita bisa membaca tulisan ini.
  • Teman yang mau mendengarkan keluh kesah.
  • Waktu luang, rasa aman, udara yang kita hirup tanpa membayar sepeser pun.
  • Dan yang paling mahal: hidayah dan iman.

Kalau ditimbang dengan jujur, banyak sekali rezeki yang sudah kita nikmati tanpa pernah kita masukkan ke "pembukuan" hati. Orang yang gajinya besar tapi sakit-sakitan belum tentu lebih kaya daripada orang yang penghasilannya pas-pasan tapi sehat, tenang, dan dikelilingi keluarga yang rukun.

Kalau Sudah Dijamin, Kenapa Harus Berusaha?

Pertanyaan ini wajar muncul. Jawabannya: jaminan rezeki tidak sama dengan izin bermalas-malasan. Allah yang menjamin rezeki adalah Allah yang sama yang memerintahkan kita bergerak. Dalam Surah Al-Mulk ayat 15, Allah berfirman bahwa Dia menjadikan bumi mudah untuk dijelajahi, "maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya."

Jaminan itu ibarat makanan yang sudah disiapkan di atas meja, tapi kita tetap harus berjalan ke meja dan mengambilnya. Burung yang rezekinya dijamin pun tetap terbang meninggalkan sarangnya setiap pagi. Pembahasan tentang ini akan kita dalami di artikel tentang tawakal dalam seri ini.

Yang berubah karena keyakinan "rezeki tidak tertukar" bukanlah semangat kerja kita, melainkan cara hati kita menyikapi hasilnya. Kita tetap bekerja sungguh-sungguh, tapi tidak perlu sikut-sikutan, tidak perlu curang, dan tidak perlu iri pada jatah orang lain.

Lapang dan Sempitnya Rezeki Bukan Ukuran Kemuliaan

Dalam Surah Al-Fajr ayat 15–16, Allah menggambarkan sikap manusia: ketika diberi kelapangan ia berkata "Tuhanku memuliakanku", dan ketika rezekinya disempitkan ia berkata "Tuhanku menghinakanku". Allah lalu membantahnya dengan tegas: "Sekali-kali tidak!"

Ayat ini mengoreksi cara pandang yang sangat umum di sekitar kita. Kaya bukan tanda pasti disayang Allah, dan miskin bukan tanda pasti dibenci. Keduanya adalah ujian. Yang kaya diuji dengan syukur, yang sempit diuji dengan sabar. Nilai seseorang di sisi Allah ditentukan oleh takwanya, bukan oleh isi dompetnya.

Sikap yang Perlu Kita Bangun

  1. Tenang, tapi tidak santai. Kerjakan bagian kita sebaik-baiknya, lalu serahkan hasilnya kepada Allah.
  2. Berhenti membandingkan. Jalan rezeki setiap orang berbeda. Membandingkan hanya akan mencuri rasa syukur.
  3. Jaga kehalalan. Kalau rezeki sudah dijamin, mengapa harus mengambil yang haram? Mengambil jalan pintas yang haram justru berarti tidak percaya pada jaminan Allah.
  4. Perluas definisi rezeki agar mata hati lebih mudah melihat nikmat yang sudah ada.
  5. Ketuk pintu-pintunya. Islam mengajarkan amalan-amalan yang membuka pintu rezeki: sedekah, silaturahim, istighfar, syukur, takwa, tawakal, kerja halal, dan doa. Semuanya akan kita bahas satu per satu dalam seri ini.

Penutup

"Rezeki tidak akan tertukar" bukan kalimat penghibur kosong. Ia berdiri di atas ayat dan hadis yang jelas. Keyakinan ini membuat kita bekerja dengan hati yang lebih ringan: tidak serakah saat lapang, tidak putus asa saat sempit. Allah berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 22, "Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu."

Semoga Allah melapangkan rezeki kita semua, memberkahinya, dan menjadikan kita orang-orang yang pandai bersyukur.

Rujukan: Al-Qur'an (QS. Hud: 6, Al-Mulk: 15, Al-Fajr: 15–16, Adz-Dzariyat: 22); Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim; Sunan Ibnu Majah.

Komentar

↑