Tentang KamiKontakKebijakan PrivasiDisclaimerDaftar Isi

Bekerja dan Mencari Rezeki Halal dalam Islam: Dalil, Keutamaan, dan Godaannya

· Oleh zulfhadli
Petani memanen padi secara tradisional
Memanen padi secara tradisional. Foto: M Joko Apriyo Putro, CC BY-SA 4.0 · Sumber: Wikimedia Commons

Ada pekerjaan yang terlihat keren di mata orang dan ada yang dianggap biasa saja. Tukang parkir, petani, ojek online, pedagang kaki lima, buruh pabrik, semuanya sering dipandang sebelah mata. Padahal dalam Islam, ukuran kemuliaan sebuah pekerjaan bukan gengsinya, melainkan kehalalannya dan kesungguhan orang yang menjalaninya.

Di artikel kedelapan Seri Pintu Rezeki ini, kita membahas kerja keras mencari nafkah sebagai ibadah, sekaligus mengapa kehalalan rezeki jauh lebih penting daripada jumlahnya.

Makan dari Hasil Tangan Sendiri

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada makanan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Dawud makan dari hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Bukhari dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib)

Nabi Dawud AS adalah seorang raja. Beliau bisa saja hidup dari kekayaan kerajaan, tetapi beliau memilih makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Rasulullah SAW sendiri pernah menggembala kambing dan berdagang sebelum diangkat menjadi nabi. Bekerja keras bukan hal yang memalukan; justru itulah jalan para nabi.

Lebih Baik Memikul Kayu daripada Meminta-minta

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang yang mengambil talinya, lalu pergi mencari kayu bakar dan memikulnya di punggung untuk dijual, sehingga Allah menjaga kehormatannya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi maupun ditolak (HR. Bukhari).

Hadis ini sangat relevan hari ini. Pekerjaan sederhana yang halal jauh lebih terhormat daripada hidup dari belas kasihan orang lain, apalagi dari cara-cara yang tidak jujur.

Bertebaran Mencari Karunia Allah

Allah berfirman dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 10, "Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung."

Ayat ini menggambarkan keseimbangan yang indah: salat dulu, lalu bekerja, dan selama bekerja tetap ingat kepada Allah. Bekerja tidak memisahkan kita dari ibadah. Dengan niat yang benar, pekerjaan itu sendiri bernilai ibadah, terutama ketika diniatkan untuk menafkahi keluarga.

Halal Lebih Penting daripada Banyak

Allah memerintahkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 168, "Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi..." Kata halal disebut lebih dulu sebelum baik.

Ada satu hadis yang membuat kita merinding. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Lalu beliau menyebut seorang lelaki yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut dan tubuhnya berdebu, menengadahkan tangan ke langit sambil berdoa, "Ya Rabb, ya Rabb," padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram. "Maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?" (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Lelaki dalam hadis itu memenuhi banyak sebab terkabulnya doa: sedang dalam perjalanan, dalam keadaan susah, menengadahkan tangan, dan memanggil nama Allah. Tetapi semuanya terhalang oleh satu hal, yaitu harta haram. Rezeki haram bukan hanya dosa, tetapi juga menutup pintu doa.

Peringatan tentang Zaman yang Tidak Peduli Halal-Haram

Rasulullah SAW pernah mengabarkan, "Akan datang kepada manusia suatu zaman ketika seseorang tidak peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Hari ini godaan itu datang dalam bentuk baru, misalnya:

  • Judi online yang dibungkus istilah "slot", "gacor", atau "permainan".
  • Riba, termasuk pinjaman berbunga mencekik dari aplikasi pinjaman ilegal. Allah menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 275 bahwa Dia menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
  • Investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tetap tidak masuk akal.
  • Penipuan online, menjual barang dengan foto palsu, atau mengurangi takaran.
  • Korupsi kecil: memanipulasi kuitansi, mark-up biaya, atau mengambil jam kerja untuk urusan pribadi.

Semua itu mungkin terlihat menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi menghapus keberkahan dan menghalangi doa.

Tips Menjaga Rezeki Tetap Halal

  1. Niatkan bekerja sebagai ibadah untuk menafkahi keluarga dan menjaga kehormatan diri.
  2. Pelajari hukum muamalah yang berkaitan dengan pekerjaanmu, misalnya jual beli, sewa, atau kerja sama usaha.
  3. Hindari yang syubhat. Jika ragu, tinggalkan.
  4. Hitung dengan jujur, termasuk ketika membuat kuitansi; gunakan alat bantu seperti angka ke terbilang rupiah agar rapi dan tidak salah tulis.
  5. Simulasikan cicilan sebelum berutang agar tidak terjebak beban yang tidak sanggup dibayar, misalnya dengan kalkulator cicilan.
  6. Tunaikan zakat dan sedekah untuk membersihkan harta.

Penutup

Tidak ada pekerjaan halal yang hina. Petani yang memanen padi, pedagang yang jujur di pasar, dan pegawai yang amanah semuanya sedang menjalani jalan para nabi. Yang perlu dijaga bukan gengsi pekerjaannya, melainkan kehalalan setiap rupiah yang masuk ke rumah kita. Rezeki yang halal mungkin terasa lambat, tetapi di situlah keberkahan dan terkabulnya doa.

Rujukan: Al-Qur'an (QS. Al-Jumu'ah: 10, Al-Baqarah: 168 dan 275); Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim.

Komentar

↑