Tentang KamiKontakKebijakan PrivasiDisclaimerDaftar Isi

Istighfar Pembuka Rezeki: Makna Surah Nuh Ayat 10-12 dan Bacaan Sayyidul Istighfar

· Oleh zulfhadli
Tetesan air hujan di jendela
Tetesan hujan di jendela, mengingatkan pada janji hujan dalam Surah Nuh. Foto: Frank Vincentz, CC BY-SA 3.0 · Sumber: Wikimedia Commons

Saat rezeki terasa seret, refleks kita biasanya mencari strategi: tambah jam kerja, cari sampingan, ganti cara jualan. Semua itu baik dan perlu. Tapi ada satu hal yang sering terlewat, padahal Al-Qur'an menyebutnya secara gamblang sebagai pembuka pintu rezeki: istighfar, memohon ampun kepada Allah.

Di artikel keempat Seri Pintu Rezeki ini, kita membahas hubungan antara istighfar dan rezeki, kisah yang sering dinukil para ulama, dan bacaan istighfar yang diajarkan Rasulullah SAW.

Janji dalam Surah Nuh Ayat 10–12

Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya selama ratusan tahun. Di antara seruannya, Allah abadikan dalam Surah Nuh ayat 10–12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Artinya: "Maka aku berkata (kepada mereka), 'Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.'"

Perhatikan urutannya. Istighfar disebut lebih dulu, lalu menyusul lima hal: hujan, harta, anak keturunan, kebun, dan sungai. Bagi masyarakat agraris, kelimanya adalah gambaran rezeki yang paling lengkap.

Kisah Hasan Al-Bashri

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menukil kisah tentang Hasan Al-Bashri, ulama besar generasi tabi'in. Suatu hari datang beberapa orang dengan keluhan berbeda. Ada yang mengeluhkan kemarau, ada yang mengeluhkan kemiskinan, ada yang belum dikaruniai anak, dan ada yang kebunnya kering. Kepada mereka semua, Hasan Al-Bashri memberi nasihat yang sama: perbanyaklah istighfar.

Ketika ditanya mengapa jawabannya sama untuk keluhan yang berbeda-beda, beliau membacakan Surah Nuh ayat 10–12 di atas. Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama memahami ayat tersebut: istighfar adalah kunci untuk berbagai kesulitan hidup.

Kenapa Istighfar Membuka Rezeki?

Dosa bisa menjadi penghalang datangnya kebaikan. Ketika seseorang beristighfar dengan sungguh-sungguh, ia sedang membersihkan penghalang itu. Selain itu, istighfar menumbuhkan sikap rendah hati: mengakui kekurangan diri dan menggantungkan harapan kepada Allah. Hati yang seperti ini lebih mudah menerima pertolongan-Nya.

Istighfar yang dimaksud tentu bukan sekadar ucapan di bibir. Para ulama menjelaskan bahwa tobat yang sempurna mencakup penyesalan, berhenti dari dosa, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika dosanya berkaitan dengan hak orang lain, hak itu juga harus diselesaikan.

Teladan dari Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah manusia yang dijamin ampunan-Nya, namun beliau bersabda, "Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah). Dalam riwayat Muslim disebutkan seratus kali dalam sehari. Jika beliau saja demikian, kita jauh lebih membutuhkannya.

Bacaan Sayyidul Istighfar

Rasulullah SAW mengajarkan bacaan yang disebut Sayyidul Istighfar, yaitu "penghulu istighfar":

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

Latin: Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa ana 'abduka, wa ana 'alā 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu, a'ūdzu bika min syarri mā shana'tu, abū'u laka bini'matika 'alayya, wa abū'u laka bidzanbī faghfirlī, fa innahū lā yaghfirudz dzunūba illā anta.

Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau."

Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang membacanya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum sore, ia termasuk penghuni surga; demikian pula jika membacanya di malam hari lalu meninggal sebelum pagi (HR. Bukhari dari Syaddad bin Aus).

Catatan tentang Hadis Populer

Ada hadis yang sering dikutip: "Barang siapa membiasakan istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, tetapi banyak ulama hadis menilai sanadnya lemah. Kita tidak memerlukannya, karena keutamaan istighfar sudah sangat jelas dari Surah Nuh dan hadis-hadis sahih di atas.

Cara Membiasakan Istighfar

  1. Baca setelah salat wajib. Rasulullah SAW membaca astaghfirullah tiga kali setiap selesai salam (HR. Muslim).
  2. Sayyidul istighfar pagi dan petang. Masukkan ke dalam rutinitas zikir harian.
  3. Waktu sahur. Allah memuji orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur (QS. Ali Imran: 17).
  4. Di sela aktivitas. Saat menyetir, menunggu antrean, atau memasak, basahi lisan dengan istighfar.
  5. Iringi dengan perbaikan. Istighfar paling bermakna ketika disertai usaha meninggalkan kebiasaan buruk.

Penutup

Istighfar adalah amalan yang ringan di lisan tetapi besar maknanya. Ia membersihkan hati, mendekatkan kita kepada Allah, dan menurut janji Al-Qur'an, membuka pintu-pintu kebaikan, termasuk rezeki. Saat rezeki terasa sempit, jangan hanya mengubah strategi; perbanyak juga istighfar.

Rujukan: Al-Qur'an (QS. Nuh: 10–12, Ali Imran: 17); Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim; Sunan Abi Dawud; Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an.

Komentar

↑