Tentang KamiKontakKebijakan PrivasiDisclaimerDaftar Isi

Shafiyyah binti Abdul Muthalib: Kisah Bibi Rasulullah yang Pemberani

· Oleh zulfhadli
Gunung Uhud di Madinah
Gunung Uhud, Madinah, lokasi Perang Uhud tempat Hamzah, saudara Shafiyyah, gugur sebagai syahid. Foto: Rodina alwardat, CC0 · Sumber: Wikimedia Commons

Shafiyyah binti Abdul Muthalib adalah bibi Rasulullah SAW, saudara kandung Hamzah bin Abdul Muthalib, dan ibu dari sahabat besar az-Zubair bin al-Awwam. Ia dikenal sebagai wanita yang tegar, pemberani, dan fasih bersyair. Di antara bibi-bibi Nabi, keislaman Shafiyyah adalah yang disepakati para ulama. Berikut kisahnya berdasarkan kitab hadis dan sirah yang menjadi rujukan para ulama.

Profil Singkat

KeteranganIsi
NamaShafiyyah binti Abdul Muthalib bin Hasyim, dari Bani Hasyim, suku Quraisy
IbuHalah binti Wuhaib, ibu yang sama dengan Hamzah bin Abdul Muthalib
Hubungan dengan NabiBibi dari pihak ayah
SuamiAl-Harits bin Harb, kemudian al-Awwam bin Khuwailid (saudara Khadijah)
AnakAz-Zubair bin al-Awwam, as-Sa'ib, dan lainnya
WafatSekitar tahun 20 H pada masa Khalifah Umar bin Khattab, dimakamkan di Baqi'

Keluarga Shafiyyah

Shafiyyah adalah putri Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW. Ia saudara kandung seayah dan seibu dengan Hamzah bin Abdul Muthalib, dan saudara seayah dengan Arwa binti Abdul Muthalib. Suami keduanya, al-Awwam bin Khuwailid, adalah saudara Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Rasulullah SAW. Dari pernikahan itu lahir az-Zubair bin al-Awwam, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin surga.

Shafiyyah ditinggal wafat suaminya ketika az-Zubair masih kecil, lalu membesarkannya seorang diri dengan didikan yang keras dan disiplin. Az-Zubair tumbuh menjadi pemuda pemberani yang kelak dijuluki Rasulullah SAW sebagai hawari (pembela setia) beliau (HR. Bukhari dan Muslim).

Keislaman Shafiyyah

Ketika turun perintah Allah dalam Surah asy-Syu'ara ayat 214 agar Rasulullah SAW memberi peringatan kepada kerabat terdekatnya, beliau menyeru keluarganya satu per satu. Di antaranya beliau bersabda, "Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak dapat membelamu sedikit pun di hadapan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Shafiyyah menyambut seruan itu dan masuk Islam. Para ulama seperti Ibnu Sa'd dan Ibnu Hajar mencatat bahwa di antara bibi-bibi Rasulullah SAW, keislaman Shafiyyah adalah yang disepakati, sedangkan tentang bibi-bibi yang lain terdapat perbedaan riwayat. Ia kemudian ikut berhijrah ke Madinah bersama kaum muslimin.

Ketabahan di Perang Uhud

Dalam Perang Uhud (3 H), saudaranya, Hamzah, gugur sebagai syahid dan jasadnya dirusak oleh musuh. Ketika Shafiyyah datang ke medan perang, Rasulullah SAW meminta az-Zubair mencegah ibunya melihat jasad Hamzah agar ia tidak terguncang.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Shafiyyah menjawab bahwa ia sudah mendengar apa yang menimpa saudaranya, dan bahwa itu terjadi di jalan Allah. Ia berjanji akan bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Ia membawa dua helai kain untuk mengafani Hamzah. Sikapnya menunjukkan ketabahan luar biasa seorang mukminah di tengah musibah besar.

Keberanian di Perang Khandaq

Pada Perang Khandaq (5 H), para wanita dan anak-anak muslim ditempatkan di sebuah benteng di Madinah. Menurut riwayat Ibnu Ishaq dalam kitab sirah, seorang laki-laki Yahudi mengitari benteng itu untuk mengintai kelemahan kaum muslimin. Khawatir ia akan memberi tahu musuh, Shafiyyah turun membawa tiang kayu dan melumpuhkannya. Para sejarawan menyebut peristiwa ini sebagai salah satu bukti keberanian Shafiyyah. (Sebagian ulama hadis memberi catatan pada sanad kisah ini, tetapi kisah tersebut dinukil dalam kitab-kitab sirah yang masyhur.)

Penyair yang Fasih

Shafiyyah dikenal fasih bersyair. Para sejarawan mencatat syair-syair duka yang ia ucapkan ketika ayahnya, Abdul Muthalib, wafat, juga ketika saudaranya Hamzah gugur, dan ketika Rasulullah SAW wafat. Syair-syair itu menunjukkan kedalaman perasaan dan kecintaannya kepada keluarga dan kepada Nabi.

Wafatnya Shafiyyah

Shafiyyah wafat sekitar tahun 20 H pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab dalam usia lebih dari 70 tahun, dan dimakamkan di pemakaman Baqi', Madinah.

Teladan dari Shafiyyah binti Abdul Muthalib

  1. Tabah menghadapi musibah dengan mengharap pahala dari Allah.
  2. Ibu yang mendidik anaknya menjadi pejuang: az-Zubair tumbuh menjadi pembela setia Rasulullah SAW.
  3. Hubungan keluarga tidak menjamin keselamatan; iman dan amal yang menentukan, sebagaimana peringatan Nabi kepada kerabatnya.
  4. Berani melindungi orang-orang lemah ketika keadaan genting.
Seri Sahabiyah (Sahabat Perempuan)
  1. Khadijah binti Khuwailid
  2. Aisyah binti Abu Bakar
  3. Fatimah az-Zahra
  4. Shafiyyah binti Abdul Muthalib (sedang dibaca)
  5. Arwa binti Abdul Muthalib

Kesimpulan

Shafiyyah binti Abdul Muthalib adalah bibi Rasulullah SAW yang keislamannya disepakati para ulama, ibu dari az-Zubair bin al-Awwam, dan teladan ketabahan ketika Hamzah gugur di Uhud. Keberanian dan kefasihannya menjadikannya salah satu sahabiyah yang dikenang dalam sejarah Islam.

Baca juga: Arwa binti Abdul Muthalib · Hamzah bin Abdul Muthalib · Kisah sahabat Nabi lainnya

Rujukan: Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim; Musnad Ahmad; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah; Ibnu Sa'd, ath-Thabaqat al-Kubra; Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah; adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala.

Komentar

↑