Khadijah binti Khuwailid: Biografi Istri Pertama Rasulullah dan Wanita Pertama yang Beriman

Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira dan Rasulullah SAW pulang dalam keadaan gemetar, orang pertama yang menenangkan dan membenarkan beliau adalah istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Ia adalah istri pertama Nabi, manusia pertama yang beriman kepada risalahnya, dan pendukung dakwah yang mengorbankan seluruh hartanya. Berikut biografinya berdasarkan kitab hadis dan sirah yang menjadi rujukan para ulama.
Profil Singkat
| Keterangan | Isi |
|---|---|
| Nama lengkap | Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza, dari Bani Asad, suku Quraisy |
| Julukan | Ath-Thahirah (wanita yang suci), Ummul Mukminin |
| Pekerjaan | Saudagar terpandang di Makkah |
| Menikah dengan Nabi | Saat Nabi berusia 25 tahun; menurut riwayat yang masyhur, Khadijah berusia 40 tahun |
| Anak | Al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah |
| Wafat | Tahun ke-10 kenabian, sekitar tiga tahun sebelum hijrah, dimakamkan di Ma'la (Hajun), Makkah |
Saudagar Mulia dari Quraisy
Khadijah berasal dari keluarga Quraisy yang terhormat. Ia dikenal sebagai wanita yang cerdas, berakhlak mulia, dan kaya. Hartanya diperdagangkan oleh orang-orang yang ia percaya dengan sistem bagi hasil. Sebelum menikah dengan Rasulullah SAW, ia pernah menikah dua kali dan suaminya wafat.
Khadijah mendengar tentang kejujuran dan amanah Muhammad, yang ketika itu dijuluki al-Amin. Ia lalu mempercayakan barang dagangannya untuk dibawa ke Syam, ditemani pelayannya, Maisarah. Perdagangan itu membawa keuntungan besar, dan Maisarah menceritakan akhlak mulia yang ia saksikan selama perjalanan (Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah).
Pernikahan dengan Rasulullah SAW
Terkesan dengan kejujuran dan akhlak Muhammad, Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menikah melalui perantara, dan pinangan itu diterima. Menurut riwayat yang masyhur, saat itu Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun. Selama Khadijah hidup, Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain (HR. Muslim).
Dari pernikahan ini lahir enam anak: dua putra, al-Qasim dan Abdullah, yang wafat ketika masih kecil, serta empat putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.
Orang Pertama yang Beriman
Menjelang usia 40 tahun, Rasulullah SAW sering menyendiri di Gua Hira di Jabal Nur. Di sanalah malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama, Surah al-'Alaq ayat 1–5. Beliau pulang dengan hati bergetar dan berkata, "Selimutilah aku, selimutilah aku," lalu menceritakan apa yang terjadi dan berkata bahwa beliau mengkhawatirkan dirinya.
Khadijah menjawab dengan kalimat yang diabadikan dalam Shahih al-Bukhari:
"Sekali-kali tidak. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Sungguh engkau menyambung tali silaturahim, menanggung beban orang yang lemah, memberi orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah karena membela kebenaran." (HR. Bukhari dan Muslim)
Khadijah lalu membawa beliau kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang yang memahami kitab-kitab terdahulu. Waraqah menjelaskan bahwa yang datang kepada beliau adalah malaikat yang dulu datang kepada Nabi Musa. Khadijah pun menjadi manusia pertama yang beriman kepada risalah Rasulullah SAW.
Pengorbanan untuk Dakwah
Khadijah mendukung dakwah dengan jiwa dan hartanya. Ketika kaum Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib selama sekitar tiga tahun di Syi'ib Abi Thalib, Khadijah ikut menanggung kelaparan dan penderitaan bersama Rasulullah SAW, padahal sebelumnya ia hidup berkecukupan. Hartanya habis untuk menopang kaum muslimin di masa sulit itu.
Keutamaan Khadijah
- Salam dari Allah dan kabar gembira surga. Jibril datang kepada Rasulullah SAW dan berkata bahwa Khadijah sedang datang membawa makanan; Jibril meminta beliau menyampaikan salam dari Allah dan dari Jibril kepadanya, serta kabar gembira tentang sebuah rumah di surga dari mutiara, yang tidak ada kebisingan dan keletihan di dalamnya (HR. Bukhari dan Muslim).
- Sebaik-baik wanita. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik wanita (di zamannya) adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita (di zamannya) adalah Khadijah binti Khuwailid." (HR. Bukhari dan Muslim)
- Selalu dikenang Rasulullah SAW. Aisyah berkata bahwa ia tidak pernah cemburu kepada istri Nabi yang lain seperti cemburunya kepada Khadijah, padahal ia tidak pernah bertemu dengannya, karena Rasulullah SAW sering menyebut namanya. Beliau bahkan biasa menyembelih kambing lalu mengirimkan dagingnya kepada sahabat-sahabat Khadijah (HR. Bukhari).
Wafatnya Khadijah
Khadijah wafat pada tahun ke-10 kenabian, sekitar tiga tahun sebelum hijrah, dan dimakamkan di pemakaman Ma'la (Hajun), Makkah. Pada tahun yang sama wafat pula paman Nabi, Abu Thalib, yang selalu melindungi beliau. Karena besarnya kesedihan Rasulullah SAW, tahun itu dikenal sebagai 'Amul Huzn (tahun kesedihan).
Teladan dari Khadijah
- Istri yang menenangkan: di saat suami gundah, Khadijah hadir dengan kata-kata yang menguatkan.
- Menilai orang dari akhlaknya: ia memilih suami karena kejujuran dan amanahnya.
- Harta untuk kebaikan: kekayaannya dipakai untuk menopang dakwah.
- Setia di masa sulit: ia tetap mendampingi Rasulullah SAW selama boikot yang berat.
- Khadijah binti Khuwailid (sedang dibaca)
- Aisyah binti Abu Bakar
- Fatimah az-Zahra
- Shafiyyah binti Abdul Muthalib
- Arwa binti Abdul Muthalib
Kesimpulan
Khadijah binti Khuwailid adalah istri pertama Rasulullah SAW, ibu dari putra-putri beliau, dan manusia pertama yang beriman. Dengan akhlak, kecerdasan, dan hartanya, ia menopang dakwah di masa paling sulit, sehingga Allah menyampaikan salam kepadanya dan menjanjikan rumah di surga.
Baca juga: Arwa binti Abdul Muthalib · Abu Bakar Ash-Shiddiq · Kisah sahabat Nabi lainnya
Rujukan: Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim; Ibnu Hisyam, as-Sirah an-Nabawiyah; Ibnu Sa'd, ath-Thabaqat al-Kubra; Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah; adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala.
Komentar
Posting Komentar